oleh Suryatapa Bhattacharya

Sanjay Kanojia/Agence France-Presse/Getty Images
Antrean pemilih di negara bagian Uttar Pradesh, India, Mei lalu.
Seorang politikus India mengusulkan bahwa Muslim di India seharusnya tidak memiliki hak pilih.
Komentar tersebut memancing kecaman luas.
Dalam kolomnya di sebuah koran mingguan, Sanjay Raut, anggota partai Shiv Sena menulis bahwa kaum “Muslim takkan maju jika kekuatan jumlahnya terus disalahgunakan oleh partai politik.”
Shiv Sena, pengusung ideologi nasionalis Hindu, adalah kekuatan besar di Maharashtra, negara bagian tempat Raut menjadi perwakilan parlemen majelis tinggi India. Menurutnya, “Muslim tidak memiliki masa depan di negara ini” selama masih berkutat dengan pemilihan berdasarkan blok.
Sebagai kelompok, Muslim India cenderung lebih miskin dari kebanyakan warga negeri itu. Merapatkan kesenjangan ekonomi selama ini telah menjadi perdebatan politik dan kebijakan.
Salah satu sosok yang mengecam tulisan Raut adalah Ashish Shelar, presiden Bharatiya Janata Party (BJP) cabang Mumbai, yang berakar kuat pada nasionalisme Hindu, partai terbesar pemerintahan.
Dalam sebuah wawancara, Shelar mengatakan BJP tidak mendukung Raut. “Undang-undang Dasar India memberikan hak memilih untuk tiap warga negara tanpa memandang agama yang dianutnya,” ujar Shelar. “Kami sangat menentang pernyataan [Raut].”
Juru bicara koran yang memuat tulisan Raut mengatakan artikel itu terbit pada edisi Minggu.
Muslim India menyumbang 13% dari total penduduk. Dalam pemilihan parlemen tahun lalu, seorang kandidat yang mengaku sebagai Muslim meraih kursi paling sedikit sejak India merdeka (22 dari 543 kursi majelis rendah, atau sekitar 4%).
Perolehan kursi terbanyak dicatatkan oleh BJP. Kebanyakan Muslim India mengindar dari BJP dan lebih memilih partai Kongres atau partai daerah lainnya.
Sejumlah analis yakin komentar Raut berangkat dari suksesnya partai politik Muslim All India Majlis-E-Ittehadul Muslimeen di Mumbai, ibukota Maharashtra, yang meraih setengah dari 23 kursi yang diperebutkan pada Pemilu Maharashtra, Oktober.
Kemajuan itu menyulitkan Shiv Sena, ujar Sanjay Kumar dari Centre for the Study of Developing Societies. Banyak partai lain di India yang sanggup “memanfaatkan kekhawatiran di antara para pemilih Muslim,” ujarnya.

©2015 Dow Jones & Company, Inc