Kamis, 03 Desember 2015

BEDA SUPERIORITAS UDARA DAN SUPREMASI UDARA

USAF_F-16A_F-15C_F-15E_Desert_Storm_edit2Superioritas udara dan supremasi udara adalah dua dari lima kondisi dalam spektrum perang. Tiga lainnya adalah kelumpuhan udara, inferioritas udara, dan paritas udara . Sebenarnya ada perbedaan besar antara superioritas udara dan supremasi yang dapat sangat mahal dalam perang.
Superioritas udara adalah kondisi minimal yang mutlak harus siap untuk bertarung. Superioritas udara berarti bahwa penyerang menghadapi musuh yang masih mampu melakukan tindakan udara tetapi penyerang masih  bisa mengacaukan. Ketika Amerika terlibat dalam Perang Dunia II dia menghadapi situasi ini.
Sementara untuk supremasi udara terlihat jelas ketika Amerika ada di Perang Teluk Persia. Di laga ini Amerika memiliki supremasi udara. Sebuah situasi di mana Amerika benar-benar memiliki dominasi udara. Ketika musuh dihadapkan pada kekuatan udara Amerika, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan supremasi udara dalam Perang Teluk pertama, angkatan udara Irak hanya mampu untuk campur tangan baik terhadap angkatan udara koalisi kami atau melawan pasukan koalisi permukaan. Pada akhir Perang Teluk pada tahun 1991 pada minggu kedua atau ketiga angkatan udara Irak melarikan diri dan tindakan udara ada terutama mencegat pesawat mencoba untuk melarikan diri ke Iran. Supremasi udara juga secara kasat mata terlihat dalam misi serangan ke ISIS di mana sama sekali tidak ada perlawanan dari darat.
http://www.jejaktapak.com/2015/12/03/begini-beda-superioritas-udara-dan-supremasi-udara/

Rabu, 02 Desember 2015

Burungku Bisu Sekali

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Sepasang burung kecil yang kubeli karena bujukan pedagangnya ini menyadarkan satu soal lagi kepadaku bahwa jangan-jangan selama ini kita salah paham terhadap kicauan burung piaraan. Jangan-jangan yang kita katakan berkicau itu adalah sebuah omelan. Jangan-jangan yang kita sangka nyanyian itu adalah sumpah serapah.
Sepasang burung kecil ini memang datang dari jenisnya yang ramai sekali. Baik gerak maupun bunyinya tak pernah berhenti. Sangkarnya yang juga kecil itu dibuat terpisah. ”Ini darurat. Nanti bisa diganti. Jika ditempatkan dalam sangkar tersendiri dan diletakkan terpisah, bunyinya akan lebih gila lagi,” kata pedagang burung ini berapi-api.
Seluruh nasihatnya aku turuti. Ketika di rumah, burung ini aku tempatkan terpisah. Hasilnya luar basa. Kicauanya deras sempurna. Ia menyanyi tanpa henti dan menjadi sumber keheranan tetangga. Setiap barang baru yang tetangga ikut mengagumi, sungguh mendatangkan kebanggaan ekstra
Tapi baru selang beberapa hari, salah satu sangkar ini terjatuh dan rusak. Terpaksa burung yang satu diungusikan sementara ke sangkar pasangannya. Burung yang sejatinya memang sepasang ini kembali dipertemukan dalam satu kandang. Hasilnya menakutkan: keduanya langsung bisu bersama-samaa. Dari burung kecil yang lincah dan periang, seketika menjadi burung yang pemalas dan menjengkelkan. Kerjanya cuma nangkring berdampingan, mencari kutu di bulu pasangannya dan kurangajar … mereka berciuman. Burung ini, tanpa seizin sang majikan, berani menjalani cinta terlarang. Begitu asyiknya mereka bermesraan sehingga lupa tugas utamanya: menghibur majikan.
Hampir saja aku murka dibuatnya. Terngiang kembali nasihat penjual burung ini sebelumnya: dicampur di satu kandang, itulah pantangannya. Kini pantangan itu kulanggar sendiri, dan aku harus bersiap menanggung akibatnya. Maka secepatnya pantangan itu hendak kembali kujaga. Sangkar baru kusiapkan demi mengembalikan kicauannya. Dan ketika sangkar baru sudah tiba, sudah saatnya burung celaka ini dipindah paksa, mereka belum pula menyadari keadaannya.
Keduanya masih saja nangkring berhimpitan. Begitu malasnya burung-burung ini sehingga kicauan tak lagi mereka perlukan. Kicau, harga termahal dari seekor burung telah mereka lupakan oleh kesibukan pacaran. Baru benar-benar ketika mereka telah siap dipisahkan, aku merasakan perbedaan cara menentukan harga di antara kami. Aku yang menganggap mahal kicauannya pasti berkebalikan dengan burung-burung ini yang menganggapnya sebagai soal yang murah saja. Murah jika bandingannya adalah kebersamaan dan kebahagiaan mereka ketika sedang bersama-sama.
Mereka tak perlu berkicau lagi karena dada-dada mereka pasti sedang penuh oleh rasa bahagia. Aku baru bertanya sekarang, jangan-jangan kicauan yang selama ini kudengar dari paruhnya itu adalah sebuah jeritan. Burung ini bisa jadi bukan sedang menyanyi melainkan sedang memekik-mekik untuk dipertemukan dengan kekasihnya yang hilang, tetapi aku menangkapnya sebagai nyanyian. Burung ini mungkin tengah menangis meraung-raung sementara di kupingku terdengar sebagai kemerduan.
Begitu bernafsunya aku ini tehadap kegembiraanku sendiri sehingga kepedihan pihak lain kujadikan bahan baku. Kenapa ada ratapan yang kudengar sebagai nyanyian cuma karena nasfuku yang terlalu untuk kegembiraanku.

Tentang Tiga Perjalanan

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Dua kali acara TV itu terlihat, dua kali saya mendapat nasihat. Ia tentang seorang pesohor muda yang melengkapi rumahnya dengan fasilitas untuk berkumpul banyak orang. Ketika tamu di rumahnya itu sebagian besar adalah anak-anak inilah kurang-lebih pernyataannya:”Perjalanan yang paling mulia adalah perjalanan ke tempat ibadah. Perjalanan paling baik adalah perjalanan ke tempat kerja. Dan… perjalanan paling menentramkan adalah perjalanan menuju rumah.”
Di hari yang lain, di acara dan televisi yang sama, yang juga terlihat secara tak sengaja saya dengar pernyataannya. Saat itu, ia sedang kedatangan tamu-tamu tuna netra; ”Kita semua memiliki tiga mata. Mata beneran untuk melihat, mata hati untuk merasa, dan mata kaki untuk melangkah menuju perbuatan.” Saya mengagumi anak muda ini, tapi soal dia akan saya tulis lain kali. Kita langsung menuju nasihatnya saja.
Kita mulai dari nasihat pertama, tentang tiga jenis perjalanan itu, perjalanan termulia, yakni berjalan ke tempat ibadah. Jadi barang siapa rampung beribadah tidak juga menjadi mulia, berarti yang mulia cuma perjalanannya. Manusianya bisa tetap seperti sedia kala.
Perjalanan kedua adalah perjalanan terbaik, yakni ketika seseorang berangkat kerja. Jadi kerja adalah pusat kebaikan. Maka jika ada orang bekerja hasilnya malah masuk penjara, ia pasti sedang mengingkari hakikat pekerjaannya. Jika ada sopir bus masih tega mengencingi pintu busnya sendiri, dan jika ada pegawai enggan merawat kendaran dinasnya, ia tak layak mendapat kebaikan dari pekerjaannya.
Perjalanan ketiga, ini menurut saya perjalanan yang tidak cuma menenteramkan tetapi juga menyenangkan yakni berjalan menuju rumah, pulang, kepada keluarga. Mak barang siapa punya rumah dan keluarga tetapi tidak memiliki ketenteraman,  sesungguhnya ia sedang tidak memiliki apa-apa. Maka siapa saja yang bermain api dengan keluarganya, ia sedang berjudi dengan hidup dan matinya.
Padahal sejauh pengamatan saya, untuk mengakses kebahagaian keluarga ini cuma butuh tindakan-tindakan  sederhana. Saya, misalnya, langsung mendapatkan kebahagiaan yang nyaris penuh dari istri saya, ketika ia saya biarkan mengerti seluruh duit yang saya peroleh dan kepadanya sering saya perintahkan  mengobrak-abrik dompet saya. Hasilnya luar biasa. Ia segera mengggap saya sebagai  lelaki setia dan terpercaya karena tak butuh ”uang laki-laki”. Di masa lalu, uang laki-laki ini biasa ditaruh di lipatan kaos kaki, di saku-saku rahasia dan di tempat-tempat tersembunyi lainnya. Tujuannya jelas, agar ia digunakan sesuka hati tanpa diketahui istri.
Dampak uang laki-laki ini ternyata dahsyat sekali, terutama jika ia dipergoki. Istri bisa berimajinasi macam-macam dari imajinasi ringan, berat atau sedang. Imajinasi ini sungguh biang bahaya karena sudah dibimbing oleh bibit ketidak percayaan. Di mata istri, kenapa  suami menyimpan uangnya secara sembunyi hanya punya satu alasan: semua ini cuma demi kepentingannya sendiri.  Dan ego semacam ini  hanya mungkin dijalankan dengan dua cara: secara diam-diam atau dengan menyiapkan kebohongan. Dan inilah bahaya bohong, ia tidak mengenal berat dan ringat karena jika ketahuan selalu meninggalkan bekas yang dalam. Batu pertama untuk saling tidak percaya telah diletakkan.
Hidup bersama yang sudah  tidak saling mempercayai adalah sumber dari seluruh tragedi. Jika serumah sudah  tidak saling percaya, maka di dalam satu selimut pun tidak akan saling meraba.  Ketika inilah rumah akan berubah fungsi dari pusat ketentraman menjadi pusat kegaduhan. Seseorang yang gagal menentramkan rumahnya sendiri, sulit untuk diharap membuat kebaikan di  dalam pekerjaan dan membuat kemuliaan di dalam peribadatan.

Ular Phyton Kekenyangan

 Oleh : Prie GS  Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Ular phyton yang dipotret oleh wartawan Reuter ini menakjubkan saya. Detail ceritanya tak perlu saya anggap penting tetapi soal-soal berikut inilah yang menyita perhatian saya. Pertama adalah panjang ular yang cuma 6 meter, tetapi sanggup menelan biri-biri bunting seberat 90 kilogram. Untuk ukurannya, ular ini bisa jadi besar dan panjang. Tapi untuk ukuran hewan yang dimangsanya, ular ini sungguh binatang tak tahu diri.
Apa akibatnya? Reptil ini segera berubah menjadi seperti gumpalan. Tubuhnya menggelembung seperti bola besar dan ia hanya bisa teronggok tak berdaya. Jangankan lari dari manusia yang hendak menangkapnya, bahkan berkedip pun (jika ular bisa berkedip) rasanya ia tak berdaya. Jarang saya melihat mulut ular ngowoh, alias menganga. Tapi mangsa yang ditelannya, biri-biri bunting itu, benar-benar sanggup memaksa ular ini berekspresi sebagai ular paling dogol di dunia. Sehabis makan, hewan yang dia sangka rezeki itu, ia cuma menjadi bahan tontonan manusia, dengan aneka perasaan. Perasaan itulah yang hendak saya ceritakan.
Pertama adalah rasa takjub. Betapa luar biasa alam ini dalam menciptakan fenomena kelenturan. Watak lentur itu, jika dipraktekkan, bahkan bisa menggulung apa saja, bahkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Itulah kenapa orang-orang lentur, jika ia orang susah misalnya, adalah orang yang tahan menghadapi penderitaan. Itulah kenapa banyak tokoh mencetak karya-karya besar justru saat di penjara. Banyak ilmuwan sempurna ilmunya ketika ia disekap dalam kamp-kamp konsentrasi. Jika seseorang memperagakan kelenturan, bahkan derita pun tak sanggup menjamahnya, tapi malah membesarkannya.
Kedua adalah rasa jengkel. Tapi betapapun lentur ular ini, ia telah menjadi angkuh dengan kelenturannya. Mentang-mentang ia bisa menggulung apa saja yang lebih besar dari tubuhnya, tapi jika sesuatu telah melebihi takarannya, hasilnya cuma marabahaya. Ia memang sukses menelan mangsa spektakuler dan bisa bercerita kepada tetangganya sesama ular, betapa tinggi pretasinya itu karena telah sanggup menelan biri-biri, bunting lagi. Tetapi pihak yang terlalu obsesif pada prestasi sehingga gelap pandangannya atas keseimbangan, adalah pihak yang sedang bunuh diri.
Ketiga adalah rasa geli. Meskipun saya jengkel kepada hewan ini atas ketololannya namanya juga cuma ular. Jika ia mau menjadi sedikit lebih cerdas, tentu ia telah berpindah kelas menjadi setingkat hewan di atas ular. Maka melihat ada hewan yang cuma menjadi korban ketololannnya tanpa pernah menyadarinya, adalah sebuah humor yang luar biasa. Melihatnya berubah cuma sebagai gumpalan besar dengan mulut menganga, dan bahkan anak-anak pun tertawa melihatnya, tentu merupakan hiburan. Karena melihat pihak yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, selain mendatangkan kemuakan, pasti juga mendatangkan kegelian.
Keempat adalah perasaan iba. Betapapun ular ini hanyalah seekor ular yang terpaksa. Barangkali ia tak sanggup lagi mencari mangsa yang cocok untuk tubuhnya. Bisa jadi habitatnya telah rusak sehingga tikus, kucing dan ayam hutan telah tak lagi mudah ditemukan akibatnya ia harus melahap apa saja. Ketika tikus tak ada, biri-biri pun jadi, walau hasilnya adalah petaka. Tak ada soal yang mengharukan, selain melihat derita hasil dari sebuah kemalangan dan keterpaksaan. Ular ini barangkali datang dari jenis yang papa dan sengsara karena manusia tak lagi memberi ruang kepadanya.
Terakhir adalah tertegun. Punya hak apa saya melecehkan tindakan ular ini, jika manusia sepertiku pun sering mempraktekkan kelakuan yang sama malah bisa lebih gila. Manusia seperti saya ini tidak cuma suka menelan sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya, tetapi juga terlalu amat besar sekali. Kelaparan ini, kadang tak cukup hanya diisi dengan nasi tetapi juga aspal , pasir, batu, gunung, pulau dan beras selundupan. Dibanding dengan kelaparan manusia, lapar ular ini menjadi amat sederhana walau ia sanggup menelan gajah sekalipun!

Kita Adalah Orang-orang Yang Menunggu

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Setiap kali saya merasa aneh setiap melihat tukang tambal ban. Keanehan terjadi ini membuat saya tidak tahan dan terpaksa jadi tulisan. Amatilah, jika sedang tidak ada kerjaan, tukang tambal ban ini pasti memandang kejauhan, kadang kosong dan menerawang. Ada berjubel imajinasi di kepalanya, tapi hampir satu yang pasti, datangnya ban bocor adalah soal yang paling dia bayangkan. Dan fakta bahwa orang ini sudah bertahun-tahun menjalani profesinya, adalah bukti bahwa ban bocor itu setiap hari ada. Dan bahwa ada ban yang selalu dibocorkan oleh keadaan hanya untuk memberi rezeki orang ini  saya kira jauh lebih ajaib katimbang Borobudur  dan Air Terjun Niagara. Itulah kenapa menunggu  adalah kegiatan yang menakjubkan saya karena ia adalah bentuk  usaha tertinggi yang bisa dilakukan manusia.
Apa yang bisa kita kerjakan selain menunggu? Benar ada seminar, ada motivasi, ada kursus ketrampilan, kursus kepribadian, manajemen cepat kaya dan  sebagainya. Tetap setelah  semua itu dilakukan, pekerjaan  terakhir tak ada. Menunggu itulah akhirnya. Seluruh dari kita ini tak lebih dari kaum penunggu. Maka di  dalam  caramu menunggu itulah terletak martabat hidupmu, begitu nasihatku kepada diriku.
Tukang tambal ini, akan saya anggap gugur mutunya jika sambil menunggu ia ternyata menabur-naburkan paku di lokasi terentu. Sambil menunggu dagangannya laku, seorang pedagang memang bisa merekayasanya dengan cara memfitnah pesaingnya atau malah mensabot usahanya. Sambil menunggu kekuasaan datang kepadanya, seorang politikus memang bisa melancarkan kampanye hitam untuk kompetitornya. Tetapi saya pasti tidak sedang bicara tentang orang-orang seperti itu karena kepada mereka telah disematkan status yang jelas; kaum rendah perilaku.
Tapi saya pasti sedang bicara tentang  seorang tukang tambal ban yang  ketangguhannya setara dengan burung-burung yang pagi terbang petang pulang dengan tembolok kenyang. Yang dilakukan burung ini hanya sebatas  terbang dan  ia tak peduli apakah bursa saham anjlok cuma gara-gara kredit perumahan. Yang dia lakukan tukang tambal ini tak lebih hanya duduk menunggu tanpa peduli apakah apakah Honda dan Toyota masih akan memproduksi mobil-mobil mereka ke Indoneisa. Yang dilakukan orang ini hanyalah satu: menunggu. Tetapi di dalam  saat menunggu inilah terletak dialog paling intensif antara manusia dengan keterbatasannya. Maka menunggu, sesungguhnya adalah kegiatan yang harus dilakukan dengan gembira, karena itulah saat paling menguji mutu kita sebagai manusia.
Ketika usia SMA, saat-saat paling berat dalam hidup saya adalah menunggu kartun saya di muat di media massa. Karena cuma itulah harapan saya satu-satunya dalam memperoleh uang. Tak terbayangkan marahnya hati ini jika sudah dikirimi berkali-kali tetapi tetap tak ada yang dimuat juga. Ingin rasanya saya mengobrak-abrik kantor redaksi media itu. Ingin saya mengajak orang sekampung untuk mengeroyok redakturnya hingga hancur-lebur.  Bahagia rasanya membayangkan redaktur yang kejam itu babak belur dikeroyok massa.
Walau ternyata tidak. Kebahagaian yang sesungguhnya ternyata saya dapati ketika saya berlaku sebaliknya yakni dengan cara terus menggambar, terus mengirim dan terus menunggu. Pada saat kartun iu muncul untuk kali pertama, rasanya seluruh dunia seperti hendak  meledak oleh kegembiraan saya. Waktu itu, bahkan terpilih menjadi presiden Amerika pun tidak akan sanggup melawan kegembiraan saya.

Lidah Simon Cowell

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Dari kaget lama-lama menjadi takjub, itulah perasaan saya setiap melihat Simon Cowell bicara. Dunia tahu siapa orang ini, terutama penonton American Idol. Ia adalah salah seorang juri yang paling dibenci peserta karena kata-katanya. Jika rem, mulut Simon adalah rem blong. Ia akan menyambar apa saja yang ada di depannya meskipun taruhannya harus mati bersama. Itulah watak rem jika sudah blong. Tetapi bahwa Simon masih hidup sampai sekarang dan ia tidak dikeroyok massa, adalah fakta yang menakjubkan. Kesimpulannya, rem orang ini memang blong, tetapi ia pasti pengemudi yang hebat karena hingga kini masih selamat. Ia bukan cuma masih hidup, tapi juga kaya raya.Pertama kali melihat gaya Simon bicara, bulu kuduk saya meremang. Bagaimana bisa ia demikian telengas memaki siapapun yang ada di depannya. Para peserta kontes Idol itu, adalah anak-anak muda yang masih rapuh. Kalah kontes saja sudah kesakitan luar biasa, apalagi kalah sambil dihina. Mereka akan habis dalam sekejab dilumat agresi dan destruksi Simon. Dan seluruh dari gaya Simon adalah kumpulan dari keduanya: ia tidak cuma mengagresi, tetapi juga mendestruksi. Bagaimana mungkin manusia setega itu dibiarkan hidup dan malah jadi juri, batin saya ngeri.
Tapi untunglah, dari ngeri saya berbalik geli. Eh, Tuhan pasti sedang menyodorkan teka-teki dengan menciptakan orang-orang seperti Simon ini. Pertama, sulit membayangkan American Idol tanpa kehadirannya. Maka Simon ini sesungguhnya pasti tidak jahat, melainkan sekadar terbiasa mengatakan kebenaran. Indonesia Idol menjadi kontes yang memukau, pasti karena dibangun dengan etos kebenaran semacam ini. Mencari yang benar itulah formulanya. Orde Baru, menjadi Orde yang tragis, pasti karena sedikit saja waktu itu dari kita yang berani mengatakan kebenaran. Karena betapa tidak mudah memang, mengatakan yang benar kepada pemimpin, karena ia tidak selalu enak di pendengaran.
Simon menempuh cara sebaliknya. Ia tidak menjilat kepada penonton. Ia bukan tidak mengerti tips untuk ditepuki. Jika mau mudah saja baginya memancing tepukan. Tetapi hal itu tak ia lakukan, karena selalu ada jenis tepuk tangan yang bersilang jalan dengan kejujuran. Tepuk tangan fans terutama, pasti lebih bermodal perasaan katimbang kejujuran. Maka membayangkan Simon Cowell sebagai pihak yang jujur, pihak yang mau menjadikan dirinya sebagai korban demi kejujuran, membuat saya berubah pendirian. Orang ini, dikirim ke dunia pasti bukan untuk menyakiti sesama, melainkan untuk mengajari kita kuat sakit di hadapan kenyataan.
Karena kepada yang benar, Simon adalah seorang penyayang yang nyata. Adegan ini buktinya: ketika seorang peserta audisi ada yang begitu buruk nyanyiannya. Semua juri hendak meledak oleh tawa saat peserta perempuan ini membuka suaranya. Benar-benar lebih mirip ringkik kuda. Tetapi apa keputusan Simon? Ia tidak menjatuhkan vonis seperti biasa. Ia malah menyuruh peserta ini menata kembali diri. Ia tahu suara peserta ini tidak jelek. Ia sejatinya unik. Ia hanya salah baca terhadap dirinya sendiri. Ia memaksa dirinya menjadi orang lain. Ia salah melakukan identifikasi dan mencari peta pada idola yang keliru. ‘’Cari dan dengar lagu Dolly Parton, pelajari dan kembali ke sini,” perintah Simon.
Dan benar, setelah diingatkan akan Dolly Parton, peserta ini kembali ke medan audisi sebagai pribadi yang sama sekali berbeda. Ada nyawa terpendam dalam dirinya, dan nama Dolly parton membuat peta keunikan itu muncul nyata. Jelas, pekerjaan Simon adalah menunjukkan jalan, meskipun caranya bisa saja menyakitkan. Di sekitar kita, ada pribadi seperti Simon ini. Mungkin ia tidak hangat sebagai teman, tidak artistik sebagai partner diskusi, terlalu ketus dan mudah menyakti, memuakkan sebagai pemimpin… tapi kuatlah menerima seluruh kesakitannya. Ia diam-diam sedang membimbing kita menemukan jalan.

Selasa, 01 Desember 2015

Sep102015
 
indominus
Pada suatu ketika, hiduplah sekelompok manusia di sebuah daerah tak dikenal. Yang subur, melimpah air, tumbuhan raksasa, buah-buahan, biji-bijian, laut dalam penuh ikan dan gunung-gunung api. Ada berbagai jenis suku, muda, tua, pria, & wanita. Seperti biasa, di masyarakat ini, berlaku juga hukum rimba. Siapa lebih kuat, merekalah yang berkuasa. Dan munculnya sebuah kelompok yang lebih kuat daripada yang lain.
Kelompok ini sangat beringas, tangguh, kuat perkasa, dan tanpa kompromi. Semua tanah diklaim sebagai milik mereka. Siapapun yang hidup di area mereka, harus membayar upeti kepada mereka. Mereka menyebut diri mereka pemerintah, yang dipimpin oleh seorang Raja.
Unit transaksi (uang) ditentukan oleh mereka. Mereka menambang material logam tertentu dan kemudian mencetak uang dengan nilai di atas ongkos material logam itu. Material ini tahan lama, gampang dihitung, dan bisa dibuat dalam bentuk dan berat yang standar.
Sang penguasa di jurasic forest menyebut uang mereka dengan nama rupis. Kalau ongkos mencetak 1 koin adalah 100 rupis, maka setiap koin bisa dicetak dan diedarkan dengah nilai 150 rupis. Selisihnya adalah untuk keuntungan pemerintah (seigniorage).
Petani, peternak, nelayan, pedagang, tukang kayu, tukang besi, dan para produsen kebutuhan pokok harus menyetor sejumlah hasil panen dan usaha mereka ke pemerintah setiap beberapa bulan, dan sebagai gantinya mereka akan mendapatkan sejumlah koin (uang) tertentu dari pemerintah, yang sebagiannya akan berakhir kembali ke tangan pemerintah dalam bentuk pajak.
Menolak mengikuti aturan ini…., ok. maka mereka akan diusir dari wilayah itu. You are either with me… or against me!
Pemerintahan tentunya tidak sepenuhnya adalah parasit bagi warganya. Semakin lama, semakin banyak suplai pangan dan kekayaan yang mereka himpun dari warga mereka. Mereka kemudian membangun pasukan yang lebih besar, menarik lebih banyak prajurit dari warganya, dan menghidupi mereka. Juga ada lebih banyak pegawai kerajaan, orang-orang yang dibayar untuk menjalankan pekerjaan administrasi dan pelayanan bagi publik di jurasic forest.
Populasi ini sedang membangun peradaban dengan signifikan.
Secara umum, warga tidak keberatan membayar sedikit pajak, selama mereka masih bisa mencari nafkah secara relatif bebas di masyarakat, dan bisa hidup tentram bersama keluarga mereka. Inilah sebenarnya kehidupan yang di inginkan.
Waktu pun berlalu… Sebagian orang bertransaksi dan berdagang lebih baik, dibandingkan dengan yang lain.
Ada yang berhasil mengumpulkan lebih banyak uang, ada yang mengumpulkan lebih sedikit uang, dan ada juga yang kurang beruntung, yang bahkan harus berakhir sebagai fakir miskin.
Populasi terus bertambah, permintaan terhadap uang pun demikian. Suatu ketika, pemerintah pun mulai kesulitan memasok semua uang yang diinginkan oleh rakyatnya.
Mereka menimbang-nimbang beberapa solusi:
merampas uang negeri tetangga mereka, atau
memilih cara yang lebih damai, campurkan logam yang lebih murah di koin-koin uang baru mereka.
Mereka memutuskan untuk memilih jalan pertama, maka berangkatlah pasukan mereka ke negeri tetangga. Mereka merampas semua barang berharga yang ada di sana, membunuh siapapun yang melawan, memperbudak anak-anak mereka, memperkosa wanita-wanita musuh mereka, mengambil alih tanah mereka, dan tentu saja, koin-koin uang mereka.
Perang dan perang, lagi dan lagi, sampai nimus petarung ini merasa wilayah yang sudah bisa dirampas sudah habis, ataupun karena tidak berani menantang negeri lain yang tampaknya lebih kuat dari mereka, barulah mereka mengakhiri perang mereka.
Setiap kali pulang perang, mereka membawa bertumpuk-tumpuk koin uang milik musuh mereka, dan menghamburkannya untuk berpesta-raya di negeri mereka. Di bulan-bulan itu, uang beredar sangat tinggi, dan harga berbagai komoditi dagangan pun naik.
Sebaliknya, kalau kalah perang, dan mereka sendirilah yang dirampok oleh negeri lain, maka suplai uang pun jatuh, dan harga berbagai komoditas pun ikut terpaksa ikut turun.
Logam sebagai uang tampaknya tidak sanggup juga melawan hukum inflasi dan deflasi…
Tahun silih berganti, waktu terus berlalu, kembali lagi pasokan logam sulit memenuhi keinginan populasi mereka. Maka pemerintah pun memilih cara berikut. Mereka mencampur logam lain yang lebih murah, dengan logam sebelumnya yang lebih berharga. Dan dengan demikian, mereka bisa menciptakan lebih banyak koin dari materi logam mahal, yang sama.
Ini dinamakan devaluasi…
Tidak masalah, solusi ini bekerja relatif baik. Tidak semua warga terima, tapi tentu tidak ada yang bisa untuk dilakukan. Ingat….! either with them or against them…
Sejumlah waktu berlalu, saat semua orang menyadari kandungan logam uang mereka sudah menurun nilainya, padahal nilai muka uangnya masih sama, mereka pun meminta lebih mahal barang dagangan mereka. Harga kembali naik, dan lagi-lagi pemerintah dipusingkan dengan hal yang sama, pasokan logam untuk menciptakan uang kembali kalah cepat dibanding keinginan publik mereka.
Maka sang Raja pun menempuh cara terakhir, mereka menggunakan logam murah sebagai uang dan mencetak mereka dengan nilai muka sama seperti uang yang menggunakan logam mahal. Cara ini berhasil “membeli waktu” bagi mereka, setidaknya untuk beberapa belas tahun ke depan.
Setelah itu, inflasi kembali naik tinggi, harga melambung tak terkendali, dan warga pun mulai bergejolak.
Devaluasi tidak mungkin lagi dilakukan, material logam yang dipakai tidak mungkin bisa lebih murah lagi dalam koin-koin versi terakhir, dan produksi tambang-tambang baru belum sanggup mengejar permintaan. Selama seratus tahun lebih, ekonomi ambruk, aktifitas populasi tidak berkembang, dan peradaban bergerak mundur. Penyakit, perang lokal, dan musibah-musibah bermunculan. Banyak yang mati dalam era kegelapan ini.
Suatu ketika, datanglah seorang bankir suku Semot, Tuan Rokiburger, menghadap sang Raja pemerintahan ini dan menawarkan sebuah solusi kepadanya.
Bankir ini berasal dari keluarga yang sudah turun-temurun bergerak di usaha peminjaman uang (lintah darat). Konon, akumulasi kekayaan keluarganya, koin-koin uang dan perhiasan yang telah ditimbun di gudang rahasia mereka, tidak akan habis difoya-foyakan dalam 38 turunan.
Rokiburger bersedia meminjamkan uang kepada pemerintah, dan sebagai gantinya, dia ingin agar mulai sekarang, hak pengadaan suplai uang di negeri ini, dialihkan kepadanya.
Filsafat yang diajarkan leluhur bankir ini kepada seluruh anak-anaknya adalah:
“Biarkan saya yang mengendalikan suplai uang sebuah negara, dan saya tidak perlu peduli siapa yang membuat hukumnya.”
Sang Raja muda ini, yang tidak mewarisi semangat rimba jurra dari para leluhurnya, bukannya membunuh sang bankir dan merampas uangnya, justru mengangguk setuju dengan gagasan ini. Kegilaan dimulai, dan mulai sekarang, diam-diam sang bankir inilah yang menjadi pemasok uang di negeri ini.
Pemerintah masih memegang bisnis pertambangan logam uang, tetapi distribusinya adalah lewat bank-bank milik Rokiburger.
Bankir ini membuka ratusan bank-bank baru di seantero negeri ini. Semua orang bebas menabung dan meminjam uang di sana. Siapapun bisa mendapatkan uang di sana, setelah disetujui & menandatangani surat perjanjian peminjaman uang tentunya.
Semua orang boleh meminjam, bila dan hanya bila: mereka setuju membayar lebih banyak daripada yang mereka dapatkan.
Pemerintah sendiri, setelah mendapat pinjaman uang dari sang bankir, kembali beroperasi seperti biasanya.
Bankir ini meminjamkan sejumlah besar uang kepada sang Raja, dan merekomendasikan berbagai jenis proyek, besar dan kecil, penting ataupun tidak penting, yang dibiayai oleh hutang kepadanya, sekali-kali juga menghasut sang Raja agar dia menyerang beberapa negeri tetangga yang lebih kecil yang terkenal kaya sumber daya alam dan wanita cantiknya. Bayarnya, boleh pelan-pelan kata Rokiburger.
Resiko gagal bayar sebenarnya tidak terlalu besar, bagaimanapun Raja masih berhak menagih pajak kepada rakyatnya. Memang lebih menguntungkan dan tidak banyak pusing meminjamkan uang kepada pemerintah secara grosir daripada kepada rakyat jelata secara retail.
Bergenerasi-generasi berlalu, dan peradaban pun berkembang lebih maju. Hanya sekarang sang bankir sendiri menghadapi masalah yang dihadapi sang Raja beberapa generasi sebelumnya.
Suplai uang kalah cepat dibanding permintaan terhadap uang.
Semua orang harus membayar lebih daripada yang mereka minta. Puluhan tahun waktu telah berlalu, bunga yang terus dibungakan, kecepatan pertambahan suplai fisik mata uang tidak lagi bisa mengimbangi volume uang yang diperlukan sistem hutang dan bunga ini (debt based money).
Dalam beberapa generasi ini, semua uang yang eksis telah berubah menjadi pembayaran bunga hutang di dalam sistem. Bunga hutang konsumen, bunga hutang pemerintah, semuanya berpindah tangan ke kantong bank Rokiburger. Suplai uang sekarang hanyalah uang-uang yang disewakan (dipinjamkan) kembali oleh sang bankir kepada seluruh populasi itu.
Sistem ini begitu menguntungkan bagi sang bankir, dan dia tidak akan membiarkan sistem ini ambruk hanya karena suplai fisik uang yang tidak lagi mencukupi. Masalah ini terlalu sepele untuk dijadikan sebagai alasan ambruknya sistem mega-profit ini, bukan begitu?
Sekarang, daripada meminjam dan menggunakan uang logam sebagai uang, bankir ini mengajarkan kepada seluruh populasi bahwa mereka boleh menggunakan uang baru yang lebih modern, uang kertas!.
Nilai uang kertas ini sama dengan uang logam yang ada di rekening bank mereka. Logam senilai 100 rupis adalah setara dengan uang kertas 100 rupis. Setiap lembaran uang kertas akan dibacking oleh logam yang sama, yang ada di berangkas raksasa bank, Rokiburger.
Semua uang adalah fiat.
Yang sedang berkuasa mengatakan inilah uang, maka inilah uang. Titik. ok! You are either with me… or against me!
Tidak benar-benar masalah bagi si bankir apa yang digunakan sebagai uang. Yang penting dari uang, adalah kekuasaan yang bisa didapat dengan memilikinya.
Sekarang, masalah selesai lagi untuk sementara. Bankir tidak lagi perlu sibuk memenuhi kebutuhan uang logam yang diperlukan dalam sistem debt based money ini.
Selama beberapa dekade berikut, peradaban berkembang semakin modern, industri dan teknologi maju terus ditemukan, dan standar hidup populasi ini pun jauh lebih baik.
Suatu ketika, karena uang kertas yang beredar sudah jauh lebih banyak dari uang logam yang ada, dan juga karena harga tambang logam sendiri sudah lebih mahal dibanding nilai muka (face value) uang logam itu, maka sang bankir pun mengumumkan bahwa semua uang logam harus ditarik kembali dan tidak boleh lagi beredar.
Nilai muka uang logam harus diubah (dinaikkan), atau solusi yang lain, logam bukan lagi uang. Untuk jalan singkatnya, sang bankir memilih jalan kedua. Logam sebagai uang adalah sejarah.
Kemajuan zaman memberikan alternatif lain kepada sang bankir. Uang kertas akan dikombinasikan dengan uang elektronik di rekening perbankan. Kalau memang bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit…
Masa transisi psikologi massa dalam proses ini sama saja seperti ketika mengganti uang logam ke uang kertas. Di tahun-tahun berikut, keluarga Rokiburger juga merencanakan untuk mengganti semua uang kertas ke medium elektronik, cukup dengan sebuah kartu chip di dompet sudah cukup untuk melakukan semua transaksi pembayaran.
Mulai era ini, tidak akan pernah ada lagi masalah suplai fisik uang yang tidak cukup. Masalah ini sudah terpecahkan selama-lamanya. Satu-satunya hal yang akan menggoncang sistem debt based money dari si tuan Rokiburger ini adalah kalau tidak cukup orang yang meminjam uang (kredit). Tanpa hutang baru, balon suplai uang di tangan warga negeri ini, akan mengempes, dan peradaban akan bergerak mundur, dengan segala resiko-resikonya.
Mengenai keluarga Rokiburger ini, sejak kakek buyutnya mendapatkan hak suplai uang di seluruh forest kingdom, jurasic world, namun segalanya berubah… Berubah ke arah yang lebih spektakuler.
Bunga uang yang disewakan ke populasi adalah satu hal,
kontrol kepada siapa uang disewakan adalah hal yang lain. Setiap arena dan industri selalu ada kompetisi, tapi siapa yang memiliki akses kredit akan lebih cepat mengekspansi usahanya daripada yang tidak, dan keluarga Rokiburger tahu pasti akan hal ini.
Rokiburger pun bermitra dengan beberapa ratus partnernya yang hampir semuanya dari suku Semot, dengan perkecualian beberapa pengikut setia dari suku lain yang ikut serta dalam rencana besar mereka, “Global Domination”.
Slogan favorit mereka:
Siapa mengendalikan bahan pangan, dia yang mengendalikan manusia.
Siapa mengendalikan minyak, dia yang mengendalikan benua.
Siapa mengendalikan uang, dia yang mengendalikan dunia.
Dalam waktu beberapa generasi, selisih skala bisnis perkumpulan mereka dengan kompetitor-kompetitornya semakin lama semakin besar. Mereka mendominasi industri-industri penting seperti pertambangan, benih pertanian, pengeboran minyak dan gas, perbankan, asuransi, farmasi, pendidikan, manufaktur senjata, dan media informasi.
Sektor-sektor yang sebelumnya harus memprioritaskan kepentingan publik seperti pasokan listrik, air bersih, dan telekomunikasi, perlahan-lahan diprivatisasikan, oleh kerajaan jurra untuk dijual ke perusahaan-perusahaan besar milik salah satu dari perkumpulan elit Rokiburger dan mitranya.
Sejak lahir, dari bayi sampai meninggal di hari tua, apapun yang publik lakukan, mereka secara langsung atau tidak harus membayar kepada tuan Rokiburger dan teman-temannya.
Waktu kecil harus disuntik vaksin, katanya bisa mencegah penyakit. Tapi entah kenapa, bayi-bayi modern tampaknya tidak lebih kuat dibanding generasi sebelumnya. Setelah masuk sekolah, dan kuliah, selama belasan tahun ke depan harus membaca buku dan mempelajari kurikulum yang telah dirancang oleh para “ahli” di bidangnya. Hingga Rockiburger telah bisa memastikan, sejauh apa publik bisa bertindak dan berpikir.
Setelah otak, pola pikir, dan perilaku setiap warganya selesai diprogram selama belasan tahun di institusi “pendidikan,” mulailah era di mana mereka akan memberikan kontribusi di dalam sistem ini. Saatnya membayar kredit uang kuliah, kredit sepeda motor, kredit mobil, kredit rumah, kredit usaha, dan kredit-kredit lainnya, till you end.
Kalau mau makan, makanan akan berasal dari panen petani yang menanam benih hibrida produksi perusahaan mereka. Kalau mau isi minyak, minyak akan berasal dari pabrik penyulingan minyak multinasional mereka. Kalo mau berobat, obat dan vaksin dari pabrik multinasional mereka. Kalo mau usaha, datang ke banking mereka.
Dan yang lain, melambungnya biaya pengobatan bagi semakin banyak orang yang mulai terjangkit penyakit modern: autisme, diabetes, kanker usus, kanker rahim, dan kanker-kanker mengerikan yang lain. Bagi sebagian orang malang yang terjangkit penyakit permanen, seumur hidup mereka akan bekerja membayar perusahaan farmasi.
Di dunia kerja, setiap kali menerima gaji, generasi ini juga membayar pajak penghasilan. Bagus, setiap warga telah berkontribusi bagi pembangunan. Yang tidak mau membayar tentu saja tidak peduli kepada bangsa, tidak peduli kepada kaum papa.
Hihihi..
Tidak masalah kalau 30% pengeluaran pemerintah dipakai untuk membayar surat hutang mereka.
Tidak masalah kalau politisi menghamburkan uang dalam kunjungan dan proyek yang luar biasa tak bermutu dan mubazir. Tidak masalah kalau sebagian uang yang dipinjam pemerintah pada dasarnya tidak perlu dimulai. Tidak masalah kalau sejumlah pengeluaran sebenarnya bisa dihemat hanya dengan mencabut hak penciptaan uang Rokiburger. Zaman di mana materi pembuat uang tidak cukup, sudah lama berlalu.
Pernah suatu ketika, pemerintah mereka menghabiskan 100 trilyun rupis untuk membangun jembatan penghubung 2 pulau. 100 trilyun for God sake! Jembatan ini akan menjadi simbol keberhasilan pembangunan katanya. Wow..wow..wow… Tanpa diskusi, tanpa debat. Mereka memutuskan demikian, maka demikian. Warga negeri ini akan dipajaki 100 trilyun tambahan demi simbol ini. Dan ada ratusan proyek lainnya yang sedang para politisi bayangkan, semuanya tidak perlu minta izin publik. Tugas rakyat hanyalah membayar.
Selesai membayar pajak, rakyat pekerja perlu membayar iuran jaminan hari tua. Katanya uang itu adalah investasi dan akan dikelola oleh para ahli keuangan. Nsmun, dalam praktek, sejumlah uang hasil jerih payah itu dipakai untuk membeli unit-unit investasi yang dijual oleh perusahaan-perusahaan finansial Rokiburger juga. Manager dan pimpinan perusahaan finansial itu segera mendapat bonus bohay aduhai tahunan, atas penjualan produk perusahaan mereka. Bonusnya short term, bayar sekarang, right here, right now! Manfaat para pekerja yang membayar, slogannya, invest for the long term….. Bayangkan masa tuamu… Bayangkan… Bayangkan… hanya Bayangan saja, isn’t!! Hihihi…
Pemerintah, setelah beberapa generasi berlalu, telah berubah sistemnya dari sebuah kerajaan menjadi sistem yang dinamakan demokrasi. Raja lemah dan goblok sebelumnya tidak lagi sanggup mempertahankan kekuasaannya di forest jurrasic world ini. Leluhur raja petarung itu pasti sedang menangis di neraka.
Suara rakyat katanya adalah suara Tuhan, maka setiap beberapa tahun negeri ini akan menhabiskan puluhan trilyun rupis uang pajak warganya untuk memilih beberapa ratus politisi yang paling mereka idolakan. Meski sulit mengakses dan tak terlalu kenal dengan para politisi itu.
Semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Rakyat mendapatkan sebuah negara, sebuah tempat di mana mereka bisa mencari nafkah dan berkeluarga, dengan ongkos membayar beberapa jenis pajak, membayar ongkos sewa uang, dan menuruti semua peraturan dan undang-undang yang ada.
Politisi, militan, dan petugas kejaksaan mendapatkan kekuasaan, gaji tinggi, kesempatan untuk korupsi, rasa hormat dan rasa takut dari rakyat kepada mereka.
Bankir mendapatkan keuntungan dengan memasok uang ke seluruh negeri, dan bersama geng-gengnya mendominasi semua sektor penting perekonomian yang ada.
Semuanya relatif bahagia, kehidupan tidak mungkin bisa lebih baik lagi.
Kecuali saat tibanya beban hutang yang tidak lagi sanggup dibayar. Suatu waktu setiap beberapa dekade, selalu muncul resesi di negeri ini. Banyak sekali keluarga yang memiliki beban pengeluaran yang tak lagi sanggup ditangani.
Dari hanya bapak yang bekerja menjadi ibu yang juga bekerja, dari 1 set penerimaan menjadi 2 set penerimaan, tetapi tetap saja pengeluaran sudah lebih besar dari penerimaan.
Semakin banyak orang meminta tolong kepada pemerintah, bagaimanapun politisi tidak dipilih untuk menerima gaji buta. Dan solusinya selalu adalah pajak yang dinaikkan kepada komponen rakyat yang masih sanggup membayar. Katanya telah terjadi kesenjangan antara kaum yang punya dengan kaum yang tidak.
Di lain kesempatan, pemerintah mengatakan bahwa subsidi listrik dan air harus dikurangi, karena telah dinikmati oleh orang -orang yang salah. Sebagai gantinya, mereka akan memberikan sedikit uang kepada kaum tidak punya.
Dalam waktu singkat, harga berbagai barang pun ikut naik. Bagaimanapun, biaya tinggi dan pajak yang lebih besar tetap harus dibebankan oleh pedagang kepada pembeli mereka. Solusi populer para politisi pada akhirnya hanya membawa kondisi masyarakat ke masa sebelum ada solusi.
“Semakin sering rakyat meminta tolong kepada politisi, semakin banyak masalah susulan yang mereka terima”. Namun, ini tentu saja tidak akan menghalangi mereka untuk terus mencoba.
Dari generasi ke generasi, semakin lama semakin banyak aturan dan undang-undang. Hak manusia semakin lama semakin terbatas, pajak semakin lama semakin tinggi, dan kekuasaan negara semakin lama semakin dominan.
Tetapi, mayoritas publik memang menginginkannya, tirani lebih baik daripada kekacauan.
Orang-orang yang katanya paranoid berimajinasi akankah tiba sebuah era di masa mendatang di mana orang-orang yang bekerja di sektor swasta akan lebih sedikit dibanding orang-orang yang bekerja untuk pemerintah. Masalah sosial muncul sedemikian banyaknya sehingga pegawai pemerintah harus terus ditambah.
Namun, tidak ada perubahan penting apapun yang terjadi. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, setiap orang sibuk memikirkan urusan pribadi mereka, sibuk memikirkan periuk nasi keluarga mereka. Lagian, ada terlalu banyak hal menarik lainnya untuk diperhatikan.
Ada partai-partai politik yang sedang berselisih, ada skandal erotis para selebriti, ada big match sepak bola, basket, dan golf, ada debat-debatan para ekonom mengenai strategi mensejahterakan negeri, ada tragedi pembunuhan dan kekerasan rumah tangga, ada demonstrasi para homoseksual atas hak-hak mereka, dan skandal-skandal para rohoniwan yang seharusnya religius, dan masalah-masalah lainnya.
Tidak ada waktu untuk memikirkan masalah, dan memang tidak lagi mungkin mencapai kesepakatan kalau sudah lebih dari 10 orang bertemu. Semua orang menyampaikan gagasan versi masing-masing, semua orang membela kepentingan kelompok masing-masing. Bagaimanapun semua orang harus makan, bukan begitu?
Rokiburger dan mitra-mitra elitnya, tidak akan ambil pusing dengan berbagai masalah sosial ekonomi yang ada. Apapun boleh diperdebatkan, siapapun boleh jadi presiden, asalkan jangan mengambil hak penciptaan uang dari mereka.
Kalau memang kondisi sedemikian buruk dan rakyat menuntut cukup keras agar pemerintahan yang sedang berkuasa untuk turun, maka itulah yang akan terjadi. Rokiburger dan rekan-rekannya harus menginvestasikan uangnya lagi untuk mempromosikan dan menyogok sekumpulan politisi yang lain, membentuk tim pemerintahan yang baru. Tidak masalah, uang investasi ini akan kembali.
Orang-orang yang menyinggung persoalan ini, seperti biasa, akan diabaikan. Dan kalau tidak bisa diabaikan, maka segera akan ada serangan para “ahli” dan media akan penjelasan moroniknya. Keraguan pun muncul, bagaimanapun, mana mungkin pendapat para “nobody” ini bisa lebih dipercaya dibanding para profesor, guru besar dan staf ahli yang hari-hari muncul di tv dan koran?
Adam Smith, Karl Max, Ludwig Von Mises, Their way… or no way…
Untungnya, belum ada bukti pakar ekonomi lebih waras atau lebih berhasil dalam kehidupan dibanding yang lain.
Apapun yang muncul di kurikulum nasional dianggap benar, apapun yang dicetak oleh penerbit dan koran besar dianggap benar, apapun yang dilaporkan sebagai fakta di tv pastilah benar. Siapalah yang bisa menyalahkan orang-orang yang percaya? Media besar mewakili kredibilitas, bukan begitu?
Selain sekolah, dan universitas hanya medialah tempat melancarkanmind control dan social engineering. Itulah sebabnya, kemanapun orang pergi di negeri ini, semua media utama selalu dikuasai oleh Rokiburger dan mitra-mitranya.
Di daerah-daerah tertentu, di forest jurrasic world, malang bagi sebagian orang yang mengkritik sistem ini, mereka bisa ditangkap dan dipenjarakan atas tuduhan anti-Semot. Setiap kali mereka menyebut Rokiburger dan teman-temannya sedang berkomplot untuk mendominasi setiap sektor industri secara tidak adil, orang-orang ini akan dicap sebagai ekstrimis, rasialis, torroris, oleh media dan lembaga pengadilan.
Sekali-kali, akan ada politisi yang ikut membicarakan mereka. Tapi satu-satunya persamaan di antara mereka adalah karier politik mereka tidak berjalan sukses. Pernah seorang presiden mencoba membelot dan melawan Rokiburger, tetapi sayang sekali tidak lama kemudian dia mati tertembak dalam salah satu konvoi di jalanan. Presiden lain yang mencoba melawan, juga berakir menyedihkan dalam sakit.
Sampai suatu ketika, saat semua orang, termasuk pemerintah, tampaknya benar-benar sudah jatuh miskin, semua politisi akhirnya bersama-sama mencoba mengancam Rokiburger. Surat hutang negara sudah tidak laku, tapi anggaran belanja tidak bisa lagi dikurangi, jadi bank Rokiburger harus membeli semua surat hutang baru itu.
Setidaknya ini sebuah kompromi kata mereka. Mereka bisa saja mencabut sama sekali hak Rokiburger untuk mensuplai uang, mengembalikan hak penciptaan uang kepada negara (kembali ke awal forest jurrasic), tetapi mereka masih baik hati membiarkannya.
Rokiburger akan membeli surat hutang baru itu dengan menciptakan kredit-kredit baru. Memang ada devaluasi atas hartanya (semua rupis pada dasarnya sudah adalah miliknya), tetapi setidaknya statusnya masih adalah kreditur.
Tak apalah, tangan yang memberi masih di atas tangan yang menerima, toh nantinya juga akan dibayar kembali oleh seluruh rakyat di negeri forest jurra (rimba purba) ini, plus bunga.
Masa depan tampaknya masih sangat menjanjikan… Bagi Rokiburger’s…
Theyownitall