Rabu, 29 April 2015

Presiden Baru Dilarang Berutang
Pergantian Penjaga di Istana Negara Jakarta (photo:setneg)
Pergantian Penjaga di Istana Negara Jakarta (photo:setneg)
Usia republik ini telah 67 tahun, namun sepanjang itu pula Indonesia terbelit dengan utang. Dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain, utang itu semakin membesar. Lima pergantian presiden belum mampu mengantarkan Indonesia keluar dari lilitan utang. Masing-masing presiden justru melanjutkan tongkat estafet warisan utang untuk presiden selanjutnya.
Tidak perlu heran jika Indonesia sulit melepaskan diri dari jerat utang, sebab, kebiasaan berutang sudah dimulai sejak republik ini masih seumur jagung. Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan menuturkan, Indonesia telah diwarisi utang oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1949, sebagai salah satu kesepakatan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.
“Sebagai syarat kemerdekaan, penyerahan kedaulatan disertai pengalihan utang dari pemerintahan Hindia Belanda,” ujar Dani Setiawan. Presiden Soekarno sempat tidak setuju dan membatalkan warisan utang yang menjadi beban bagi Indonesia. Utang dari pemerintah Hindia Belanda tidak seluruhnya dibayar, tapi bukan berarti Soekarno anti terhadap utang. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berutang ke negara-negara blok timur. Tapi ada pula utang dari AS dan negara barat.
Soekarno melanjutkan tradisi pengalihan utang ke pemerintahan Soeharto, sekitar USD 2,3 miliar (di luar utang Hindia Belanda USD 4 miliar). Saat dilantik sebagai presiden, Soeharto sudah menanggung beban utang dari Soekarno. Bukannya melunasi utang sebelumnya, Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun justru semakin rajin melakukan pinjaman baru.
Bedanya, Soeharto tidak memilih utang dari negara blok timur, tapi cenderung ke blok barat dan lembaga asing semisal Bank Dunia dan IMF. Warisan utang dari Hindia Belanda yang sempat dibatalkan oleh Soekarno, justru di re-schedule oleh Soeharto pada 1964. Selain mereschedule, Soeharto juga mendapat komitmen pinjaman baru. Utang di era Soeharto diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi, mulai dari bangun infrastruktur, bangun pabrik, industri dan lain-lain.
Presiden Soekarno Berbincang dengan Jenderal Soeharto (photo: setneg)
Presiden Soekarno Berbincang dengan Jenderal Soeharto (photo: setneg)
Menurut Ketua Koalisi Anti Utang, Dani Setiawan, utang di era Soeharto banyak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan alias dikorupsi. Rezim orde baru berutang Rp 1.500 triliun. Bisa disebut utang negara bertambah sekitar Rp 46 triliun/tahun, selama 32 tahun Soeharto berkuasa.
Saat dilengserkan tahun 1998, Soeharto melanjutkan tradisi mewarisi utang ke Presiden Habibie, mencapai USD 53 miliar ditambah utang BLBI yang dimasukkan sebagai utang dalam negeri. Totalnya, Soeharto mewarisi utang sekitar USD 171 miliar.
Proses penumpukan utang terus berlanjut di era Presiden Habibie. Bahkan, Habibie tercatat sebagai presiden yang membuat utang Indonesia makin besar dalam waktu singkat. Pada masa kepemimpinannya yang seumur jagung, Habibie mengakumulasi tambahan utang luar negeri hingga USD 20 miliar. Warisan utang dari Habibie sekitar USD 178 miliar.
Zaman reformasi tidak berarti Indonesia lepas dari jerat utang. Presiden Abdurrahman Wahid/Gus Dur, sempat menurunkan utang luar negeri pemerintah sekitar USD 21,1 miliar, dari USD 178 miliar menjadi USD 157 miliar. Namun, utang pemerintah secara keseluruhan meningkat. Sebelum lengser, Gus Dur mewarisi utang sebesar Rp 1.273,18 triliun ke Pemerintahan Megawati.
Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri, Presiden ke 4 dan ke 5 Indonesia (photo: viva.com)
Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri, Presiden ke 4 dan ke 5 Indonesia (photo: viva.com)
Demikian pula di masa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri yang menggantikan Gus Dur yang lengser. Pada masa Megawati, terjadi penurunan jumlah utang melalui penjualan aset-aset negara. Di tahun 2001 utang Indonesia sebesar Rp 1.273,18 triliun turun menjadi Rp 1.225,15 triliun pada 2002.Sayangnya, di tahun-tahun berikutnya utang Indonesia terus meningkat. Pada 2004, total utang Indonesia menjadi Rp 1.299,5 triliun. “Pada masa Gus Dur dan Megawati tambahan utang baru terbilang sedikit, tidak terlalu besar,” ujar Dani.
Budaya warisan utang berlanjut ke era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah mendapat warisan utang RP 1.299 triliun, utang Indonesia semakin membengkak menjadi Rp 1.700 triliun di 2009 atau lima tahun pertama masa kepemimpinan SBY.
Catatan positif pada masa kepemimpinan SBY, Indonesia melunasi utang-utangnya pada dana moneter internasional atau International Monetary Fund (IMF) yang telah menjerat sejak 1997. Pada Oktober 2006, sisa utang pada IMF sebesar USD 3,7 miliar yang harusnya jatuh tempo pada 2010 telah diselesaikan oleh BI. Sebelumnya, pada Juni 2006, BI juga membayar utang ke IMF sebesar Rp 3,7 miliar. Jadi, dalam waktu satu tahun anggaran, sisa utang ke IMF sebesar Rp 7,4 miliar telah dilunasi.
Data terbaru, menjelang berakhirnya masa kepemimpinan SBY di 2014, utang Indonesia semakin menggunung. Per April 2013, utang pemerintah sudah menembus Rp 2.023 triliun. “Harus diakui, di era SBY memang terjadi akumulasi utang yang besar dibanding presiden-presiden sebelumnya,” ucap Ketua Koalisi Anti Utang, Dani Setiawan.
Presiden SBY menerima kunjungan Presiden Ceko Vaclav Klaus  di Istana Merdeka, (9/07/2012) (foto: abror)
Presiden SBY menerima kunjungan Presiden Ceko Vaclav Klaus di Istana Merdeka, (9/07/2012) (foto: abror)
Dari pemaparan tersebut, tergambar bahwa warisan utang secara turun temurun sudah dilakukan sejak dulu. Setiap presiden pasti mewariskan utang ke presiden selanjutnya. Jika sekarang utang Indonesia lebih dari Rp 2.023 triliun, berapa utang yang akan diwariskan SBY saat lengser tahun depan? ” (merdeka.com)

Senin, 27 April 2015

Benarkah era harga minyak murah akan berakhir?


Oleh: Barratut Taqiyyah, Riset Kontan , CNBC,Bloomberg
NEW YORK. Rabu kemarin (15/4), harga minyak dunia bergerak ke atas level US$ 56 untuk pertama kalinya di 2015. Dengan demikian, ini merupakan hari kelima kenaikan harga minyak dunia. 
Padahal, beberapa waktu terakhir, konsumen AS menikmati bulan madu berupa murahnya harga bensin pada tahun ini akibat anjloknya harga minyak. Sekadar informasi, harga rata-rata bensin AS per galonnya sebesar US$ 2,39. Berdasarkan data AAA, angka ini di bawah harga rata-rata bensin tahun lalu yang sebesar US$ 3,63.
  • Lalu, apakah masa harga bensin murah di Amerika akan segera berakhir?
"Saat ini, harga minyak tengah berupaya menembus resisten level yang krusial yang dapat memicu harga naik sebesar US$ 6 hingga US$ 10 ke level US$ 60," tulis Timothy Anderson, Managing Director MND Partners.
Kenaikan harga minyak kemarin memicu aksi beli saham-saham energi di Wall Street. Menurut Anderson, lompatan harga si emas hitam menyebabkan investor lebih percaya diri untuk masuk ke saham-saham berbasis energi.
Sejumlah saham energi AS yang diburu investor pada Rabu (15) kemarin antara lain Range Resources yang naik hampir 6%, Transocean naik 9%, Exxon naik 2%, Royal Duth Shell naik 1,7%, Chevron naik 1,5%, dan Conoco Phillips naik 1,4%.
Sektor energi menjadi salah satu sektor yang memiliki performa terbaik pada dua hari terakhir. Kenaikan sektor ini berhasil mengangkat bursa AS.
Namun, yang perlu diingat, saham-saham tersebut sudah mengalami penurunan dua digit (dalam %) dari tahun lalu. Meski banyak analis yang yakin harga minyak akan mendaki lagi, namun, banyak juga pihak yang meragukan apakah harga si emas hitam bisa kembali ke level US$ 100 dalam waktu dekat.
"Kami percaya saat ini masih terlalu dini bagi investor untuk membeli minyak. Kami melihat pasar minyak masih berupaya mencari keseimbangan," papar Paul Christopher, Head of International Strategy Wells Fargo.
  • AS akan menjadi negara independen energi?
  • Anjloknya harga minyak dunia dipicu oleh melimpahnya suplai minyak global. OPEC, yang dipimpin oleh Arab Saudi, sangat vokal menyerukan bahwa pihaknya tidak akan memangkas produksi. Bahkan OPEC kembali menaikkan produksi lagi pada Maret.
    Di sisi lain, Amerika juga tengah menuju tingkat produksi ke rekor tertinggi di tahun 2015, bahkan melampaui produksi pada 1970 silam. Kenaikan produksi minyak AS ini yang kemudian memicu spekulasi bahwa AS akan menjadi negara yang mandiri atas energi. Departemen Energi AS memproyeksikan bahwa Amerika bisa menjadi negara yang independen atas energi -ekspor minyak lebih tinggi dari impor- pada 2019 medatang.
    Departemen Energi AS juga meramal, jika harga minyak naik ke atas US$ 100 per barel, hal itu akan semakin mengerek tingkat produksi AS dan memangkas permintaan akan minyak impor. "Dengan demikian, AS bisa menjadi negara pengekspor energi di 2019," jelas Energy Information Administration (EIA).
    Namun, lanjut EIA, harga minyak masih akan bergerak moderat beberapa waktu ke depan. Itu berarti, AS tidak akan menjadi negara yang independen energi hingga 2028.
    Hanya saja, meski harga minyak masih rendah, tingkat produksi minyak mentah AS akan mencapai rekor tertingginya pada tahun ini.
    Lonjakan produksi minyak AS, lanjut EIA, akan tetap menekan harga minyak di bawah US$ 80 hingga 2020 dan di bawah US$ 100 per barel hingga setidaknya tahun 2028.
    • Apa yang menyebabkan kenaikan harga minyak yang tiba-tiba beberapa waktu belakangan?
     Faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak sepertinya dipicu oleh data yang dirilis Energy Information Administration (EIA)  AS yang menunjukkan bahwa suplai minyak di Amerika tidak banyak bertambah pada pekan lalu.
    Adapun faktor lainnya adalah kenaikan permintaan minyak global, khususnya setelah perekonomian Eropa tampak lebih sehat dari prediksi sebelumnya.
    Selain itu, seruan anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) agar memangkas produksi juga turut menyulut kenaikan harga bahan bakar ini dalam lima hari terakhir.
    Asal tahu saja, Iran juga mengikuti jejak anggota OPEC lain, yakni Libia untuk meminta organisasi tersebut mengurangi produksi. Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namdar Zanganeh mengatakan, anggota-anggota OPEC perlu memotong volume produksi minimal 5% atau setara 1,5 juta barel per hari dari kuota produksi.
    Sikap ini berseberangan dengan keputusan Arab Saudi pada November lalu yang menjaga produksi kolektif sebesar 30 juta barel sehari. Padahal suplai yang melimpah memicu harga jatuh sejak tahun lalu.
    Analis SoeGee Futures Nizar Hilmy mengatakan, aksi Iran dan Libia memicu spekulasi suplai mungkin bisa susut. Pasar kian optimistis, EIA melaporkan, produksi shale oil di North Dakota, Amerika Serikat akan berkurang 57.000 barel per hari mulai Mei nanti. Dus, produksi minyak AS bisa berkurang menjadi 4,9 juta barel per hari.
    "Memang, sentimen ini relatif sesaat, sebab stok minyak global masih banyak. Tapi ada harapan OPEC mengurangi produksi dalam jangka panjang," kata Nizar.
    Harga minyak hingga akhir pekan ini akan dipengaruhi data stok di AS. Sejumlah analis memperkirakan, stok bertambah 3,5 juta barel per pekan lalu. Namun, pertambahannya lebih rendah ketimbang pekan sebelumnya, 10,9 juta barel.
    "Jika data sesuai ekspektasi, reli harga minyak bisa berlanjut. Sebaliknya, jika di atas perkiraan, laju kenaikan akan tertahan," tutur Nizar. Ia menebak, hingga akhir pekan ini, harga minyak mentah bergerak di kisaran US$ 52 hingga US$ 55 per barel.
  • kontan.com

Minggu, 26 April 2015

Produsen Semen Asing, Kenapa SMGR Bersiap Diri?


Bareksa.com - Industri semen Indonesia yang sudah dipenuhi pemain asing diprediksi akan lebih lagi menarik minat ditengah rencana gencarnya pembangunan infrastruktur di negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini. 
Sekarang saja, hampir setengah dari produsen swasta anggota Asosiasi Semen Indonesia (ASI) sahamnya sudah dikuasai perusahaan asing.
Secara teknis, terdapat tujuh anggota ASI, yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), yang menaungi PT Semen Padang, PT Semen Gresik dan PT Semen TonasaEnam perusahaan lainnya adalah PT Holcim Tbk (SMCB), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), PT Andalas Indonesia, PT Bosowa Maros dan PT Semen Kupang. Tiga dari tujuh produsen semen ini, sahamnya sudah dimiliki investor asing. 
Setelah mengakuisisi  pabrik Semen Cibinong, Holcim Ltd praktis memiliki pab grik dan jaringan pemasaran di Indonesia dan mengganti nama Semen Cibinong menjadi Holcim. Per akhir Maret 2015, kepemilikan perusahaan asal Swiss ini di pabrik semen di kawasan Cibinong, Jawa Barat ini telah mencapai 80,64 persen. Indocement juga 51 persen sahamnya telah dikuasai Heidelberg Cement AG., produsen semen asal Jerman. Lalu Lafarge, produsen semen asal Prancis juga sudah sejak tahun 1994 menguasai semen Andalas. Tiga investor asing ini adalah produsen semen terbesar dunia.  
Diberitakan di berbagai media bahwa Grup Wilmar -- perusahaan berbasis di Singapura yang dimiliki oleh pengusaha nasional Martua Sitorus dan Kuok Khoon Hong, keponakan konglomerat Malaysia Robert Kuok -- juga mulai mengibarkan sayap di industri semen dengan mendirikan pabrik di provinsi Banten dan menjual dengan merek Semen Merah Putih. Sementara dalam website Semen Merah Putih sendiri hanya menyebut bahwa pabrik di Banten ini berada di bawah naungan PT Cemindo Gemilang. Pabrik tersebut tepatnya berlokasi di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten.
Dan pada website-website pencari kerja, Siam Cement asal Thailand juga gencar mencari tenaga kerja dibawah bendera PT Semen Jawa. Dalam deskripsinya disebutkan jika semen jawa akan berlokasi di Sukabumi, Jawa Barat.
Tabel Kepemilikan Saham Perusahaan Semen

Sumber: Bareksa.com
Yang menarik baik Semen Merah Putih maupun Semen Jawa, adalah bahwa keduanya belum menjadi anggota ASI. Maria Renata, analis PT Trimegah Securities Tbk yang membawahi sektor semen mengatakan, sebetulnya yang menjadi anggota di ASI hanya mewakili kurang lebih sekitar 90 persen dari total kapasitas produksi semen nasional.
Menurut Renata, sebelumnya memang ada banyak perusahaan semen skala kecil yang sudah beroperasi dan menjual semen di Indonesia, tetapi tidak tercatat di asosiasi karena tidak punya tambang semen, sehingga bahan bakunya diperoleh dari impor.
Lalu bagi pemain baru, tidak menjadi anggota ASI berarti mereka dapat leluasa bersaing, termasuk dengan cara membanting harga produknya agar lebih mudah melakukan penetrasi merebut pangsa pasar. Ini adalah suatu langkah yang tidak diperkenankan bila mereka menjadi anggota asosiasi. 
"Sebagai pemain baru tentu memberikan diskon yang besar ke konsumen agar produknya bisa dikenal masyarakat. Jika masuk ke asosiasi dia tidak bisa melakukan hal itu," tambah Renata kepada Bareksa.com.
Di luar Wilmar dan Siam Cement, ada satu lagi produsen asal Tiongkok, yaitu Anhui Conch Cement, yang juga dikabarkan akan menginvestasikan $2,3 miliar untuk membangun pabrik berkapasitas total 3 juta ton per tahun.
***
Kenapa investor asing sangat tertarik terhadap industri semen di Indonesia?
Agung Winarto, Corporate Secretary PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), mengatakan kepada Bareksa.com bahwa bagi produsen semen sangat baik jika mendirikan pabrik yang dekat dengan sumber bahan baku dan sekaligus dekat dengan konsumen. Di Indonesia, tambang batu kapur jumlahnya banyak dan konsumsi semen masih sangat rendah, sehingga memberikan potensi pasar yang tinggi. 
Berdasar data SMGR, konsumsi semen di Indonesia hanya sekitar 229 kg per kapita, sedangkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapore dan Vietnam sudah di atas 500 kg per kapita. Dan dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan penjualan semen di Indonesia mencapai 9,5 persen per tahun.
Grafik Konsumsi Semen Per Kapita Per 2013
Sumber: Presentasi SMGR
Sementara itu dari laporan persentasi Holcim, supply di rata-rata negara Asia melebihi demand (permintaan), seperti di Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Malaysia. Sehingga menyebabkan investor mulai mencari pasar lain yang lebih berpotensi seperti Indonesia.
Sumber: Holcim Ltd
Kepada Bareksa.com, Renata juga menyebutkan alasan investor asing berbondong-bondong ingin berinvestasi pada industri semen di Indonesia adalah karena margin yang lebih tinggi dibanding di negara lain. Berdasarkan data Bareksa.com, margin laba bersih (net profit margin) per akhir tahun 2014 tertinggi dipegang oleh Semen Baturaja yakni 27 persen. Hal ini disebabkan karena penjualan Semen Baturaja hanya berada di daerah sekitar Sumatera Selatan dan Lampung. Lalu setelah itu diikuti oleh Indocement dan Semen Indonesia masing-masing 26,4 persen dan 20,6 persen.
Sementara itu Anhui Conch asal China, Siam City asal Thailand dan Ultratech asal India masing-masing hanya memiliki net profit margin 18 persen, 16 persen dan 10,3 persen.
Grafik Margin Produsen Semen Di Kawasan Regional Per 2014
Sumber: Bareksa.com
Agung dari Semen Indonesia menjelaskan bahwa salah satu penyebab margin laba produsen semen di Indonesia lebih tinggi karena di Indonesia porsi penjualan semen kemasan (bag cement) sangat jauh lebih tinggi dibandingkan semen curah. Kontribusi semen curah hanya 21 persen dari total penjualan nasional. Semen kemasan secara bisnis di negara manapun menawarkan margin laba yang lebih tinggi.  
Infrastruktur jalan di Indonesia yang tidak memadai menyulitkan penjualan semen curah. Semen curah biasanya dijual dalam jumlah besar dan diolah melalui truk molen. "Bayangkan saja jalan-jalan sempit di jakarta, apa bisa dimasuki truk molen?," tambah Agung.
Selain itu kebanyakan di Indonesia pembangunan rumah dilakukan oleh individu sehingga tidak membutuhkan semen dalam jumlah besar. Berbeda dengan di luar negeri yang lebih banyak pembangunan rumah susun untuk tinggal yang dilakukan oleh kontraktor.
***
Datangnya pemain asing di Indonesia perlu ditanggapi serius bari produsen semen lokal, seperti Semen Indonesia. Dari pemain lama yang ada di asosiasi saja, perusahaan yang mayoritas dikuasai pihak asing memiliki total kapasitas 34,2 juta ton atau mewakili 47,8 persen total kapasitas domestik yang tercatat di ASI.
Tabel Data Kapasitas Produsen Semen Anggota ASI per 2014
Sumber: ASI, diolah Bareksa.com
Pemain baru seperti Semen Merah Putih, Siam Cement dan Anhui Conch berencana akan membangun pabrik dengan kapasitas masing-masing 3 juta ton, 1,8 juta ton dan 3 juta ton.
Pemain asing menguasai 44,7 persen dari pangsa pasar. Dan pemain baru, Semen Merah Putih yang juga dimiliki asing saat ini sudah menguasai 2,5 persen dari pangsa pasar.
Tabel Pangsa Pasar Per Kuartal Pertama 2015
Sumber: ASI, diolah Bareksa.com
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Semen Indonesia juga perlu terus meningkatkan kapasitas produksi agar pangsa pasarnya yang saat ini sekitar 45 persen tidak mengalami penurunan. Semen Indonesia berencana untuk membangun pabrik baru di Rembang, Jawa Tengah dan Indarung, Sumatera Barat masing-masing dengan kapasitas 3 juta ton.

http://m.bareksa.com/id/text/2015/04/17/indonesia-kembali-jadi-incaran-produsen-semen-asing-kenapa-smgr-bersiap-diri/10099/analysis
Apa kabar pesawat tanpa awak Indonesia?Reporter : Fauzan Jamaludin 
Drone. ©2014 Merdeka.com



Merdeka.com - Beberapa waktu silam, pemerintah Jokowi pernah mengatakan Indonesia harus memiliki pesawat tanpa awak atau drone untuk penjagaan wilayah NKRI. Hal ini pun diapresiasi oleh berbagai pihak. Begitu juga dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) yang dikabarkan kena imbas dari wacana tersebut.
Menurut peneliti teknologi drone dari BPPT, Mohammad Dahsyat penelitian dan pengembangan teknologi drone kini mulai diperhatikan oleh pemerintah dengan memberikan anggaran untuk penelitian dan pengadaan.
Sejauh ini, kata Mohammad, telah tumbuh dan berkembang beberapa perusahaan kecil dan menengah yang bergerak dalam industri rancang bangun PUNA (Pesawat udara nir Awak) mulai dari disain air frame atau sistim wahana sampai dengan pengembangan peralatan sub sistim lainnya seperti gimbal dan sistim flight control computer, serta sistim telekomunikasinya.
"Sampai saat ini BPPT telah membangun prototype dengan tingkat teknologi readiness level (TRL) 8 s/d 9 seperti wulung dan alap-alap dan hasilnya untuk wulung telah diproduksi masal oleh PT DI untuk memenuhi skuadron pesawat nir awak nasional," ujarnya kepadaMerdeka.com, (25/4).
Indonesia, menurutnya, penting sudah untuk mengembangkan drone. Pasalnya, hampir sebagian besar negara luar saat ini terus menerus mengembangkan dan memanfaatkannya untuk berbagai keperluan mulai dari negara berkembang hingga negara adidaya.
"Dengan begitu artinya teknologi perlu dikuasai jika tidak mau dibilang ketinggalan, karena jika tidak nantinya berisiko kita banyak membeli untuk memenuhi berbagai kebutuhan baik saat ini maupun dimasa yang akan datang," kata mantan Chief Engineer program PUNA (pesawat Udara nir Awak) tahun 2009 -2013 ini.
Dengan membuat dan mengembangkan sendiri, lanjut dia, secara nasional akan mengurangi terjadinya capital flight yang dapat menguras devisa. Saat ini produk buatan peneliti Indonesia, sudah digunakan oleh TNI khususnya AU.

Merdeka.com,