Bank Infrastruktur: Fokus Rencana Cina untuk Asia
- Reuters
- Presiden Cina Xi Jinping, bersama Presiden Joko Widodo, menghadiri Forum Boao di Provinsi Hainan, Cina, 28 Maret 2015.
BOAO, Cina—Presiden Cina Xi Jinping memaparkan visi negaranya untuk membentuk tata ekonomi dan keamanan baru di Asia. Ia menawarkan manfaat berupa kemakmuran dan kerja sama dari Cina kepada negara-negara kawasan.
Dalam pidato di Forum Boao untuk Asia akhir pekan lalu, Xi mempromosikan Cina sebagai mitra yang siap “bersama-sama membangun tata kawasan baru yang lebih menguntungkan bagi Asia dan dunia.” Ia mencontohkan bank investasi infrastruktur baru pimpinan Cina serta inisiatif lain yang bermaksud menyediakan ratusan miliar untuk pendanaan jalur kereta api, pelabuhan, serta proyek pembangunan lain. Xi juga menggambarkan upaya ini sebagai cara untuk memupuk integrasi ekonomi regional.
Berpidato selama 30 menit, Xi menekankan bahwa visi Cina ini—meski berfokus di Asia—terbuka terhadap partisipasi dari seluruh dunia. Ia membantah dugaan sejumlah pengamat politik dan keamanan yang menilai Cina akan menjadi titik pusat inisiatif ini.
Bagaimanapun, mengingat Cina lebih besar ketimbang negara lain, wajar kalau negaranya memainkan peran yang besar pula, ujar Xi. “Menjadi sebuah negara besar berarti mengemban tanggung jawab yang lebih besar bagi kawasan ini, dan bukan mencari monopoli atas urusan regional dan dunia,” kata Xi di hadapan Forum Boao untuk Asia.
Pidato tersebut kembali menegaskan rencana Xi memanfaatkan pertumbuhan Cina untuk merombak tata ekonomi dan keamanan di Asia. Padahal dalam beberapa puluh tahun terakhir, Beijing rela berkecimpung dalam tata dunia yang didominasi Barat dan Amerika Serikat.
Sebagai pusat rencana tersebut, Cina mengajukan rencana pendirian Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) untuk mendanai pembangunan infrastruktur di benua ini. Cina juga ingin memperkuat infrastruktur di jalur maritim tradisional yang menghubungkan Negeri Tirai Bambu dengan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
Rencana itu mendapat sambutan dari berbagai negara dan korporasi di Asia, yang membutuhkan suntikan dana triliunan dolar untuk keperluan infrastruktur, berdasarkan data dari Bank Pembangunan Asia. Para pejabat Cina mengatakan AIIB, yang akan mulai beroperasi tahun ini, diperkirakan akan menarik partisipasi dari sekitar 40 negara.
Pendirian AIIB telah memicu kekhawatiran, termasuk dari Washington, bahwa Cina akan memanfaatkan peran mereka untuk tujuan politik dan lainnya. “Memang ada kekhawatiran bahwa [AIIB] akan menegaskan dominasi Cina,” kata Mari Pangestu, mantan menteri perdagangan, dalam diskusi panel di Boao pada Jumat lalu. “Ini merupakan peringatan. Cina mengatakan [bank ini] terbuka … saya pikir kita harus memastikan bahwa kenyataannya memang benar seperti itu.”
http://m.indo.wsj.com/articles/BL-230B-14024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar