Bank Dunia Akan Rangkul Bank Infrastruktur Cina
- Zhang Fan/Zuma Press
- Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim di Berlin, Jerman, 11 Maret 2015.
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengaku akan menemui para pejabat Cina untuk menjajaki kolaborasi dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB).
Menurut Kim, AIIB dan lembaga pembangunan pimpinan Cina lainnya “berpotensi menjadi sekutu yang kuat” bagi Bank Dunia—lembaga bentukan Amerika Serikat (AS)—dalam upaya pemberantasan kemiskinan di tingkat global. Kim mengatakan akan bertemu dengan petinggi Cina pekan depan di Washington untuk membicarakan cara-cara bekerja sama. Acara itu bertepatan dengan pertemuan rutin Bank Dunia serta Dana Moneter Internasional (IMF).
Amerika Serikat awalnya menentang pembentukan AIIB, yang digalang oleh Beijing. Washington mengaku khawatir AIIB akan beroperasi dalam standar peminjaman dan transparansi yang lebih rendah. Pejabat AS pun mendesak negara-negara lain untuk mengabaikan lembaga bentukan Cina itu. Meski demikian, beberapa sekutu penting AS justru mengajukan diri sebagai anggota pendiri.
Cina dan negara berkembang lain tengah ramai membentuk lembaga pendanaan internasional, sebagai perwujudan rasa frustrasi atas dominasi AS di Bank Dunia dan IMF. Lembaga-lembaga baru ini mulai menggoyang tata ekonomi dunia, termasuk di Asia.
Bank infrastruktur bentukan Cina itu menggarisbawahi lonjakan kekuatan ekonomi negara tersebut di kancah global. Peran Bank Dunia juga mulai bergeser di tengah era peningkatan kekayaan negara berkembang, pendanaan pembangunan dari swasta, serta geliat firma konsultan internasional.
“Jika bank-bank multilateral di dunia, termasuk yang baru-baru, dapat menjalin persekutuan, bekerja bersama, dan menyokong pembangunan yang menyoroti tantangan-tantangan ini, manfaatnya akan dirasakan kita semua, terutama warga miskin dan paling rawan,” kata Kim dalam pidato di Center for Strategic and International Studies.
Kim, yang ditunjuk oleh AS untuk mengepalai Bank Dunia pada 2012, berkata lembaga-lembaga baru bisa membantu menambal kebutuhan pendanaan untuk pembangunan jembatan, jalan, rel kereta, pelabuhan, dan pembangkit listrik untuk bertahun-tahun ke depan.
“Kami memperkirakan dunia memerlukan tambahan [$1 triliun hingga $1,5 triliun] per tahun dalam investasi infrastruktur,” ujarnya. “Saya akan berupaya sekuat tenaga untuk mencari cara-cara inovatif dalam bekerja sama dengan bank-bank [baru] ini.”
http://m.indo.wsj.com/articles/BL-230B-14114
Tidak ada komentar:
Posting Komentar