Tembus Asia
- KEN ISHII/GETTY IMAGES
- Pesawat tempur F/A-18 Super Hornet milik angkatan laut AS mendarat dalam latihan di Iwojima, Jepang, 14 Mei 2014.
SINGAPURA—Belanja militer di benua Asia melonjak menjadi terbesar kedua dunia dalam sepuluh tahun terakhir. Namun, perusahaan senjata Amerika Serikat (AS) gagal memanfaatkan peluang ini, padahal negara itu merupakan pemasok peralatan militer nomor satu dunia.
Permintaan akan sistem pertahanan di Asia melonjak seiring dengan aksi Cina unjuk kekuatan di Laut Cina Selatan. Total belanja pertahanan global tahun 2014 mencapai $1,719 triliun. Asia dan Pasifik berkontribusi 25% atau $423 miliar, membuntuti Amerika Utara yang mencapai $596 miliar. Data dari Stockholm International Peace Research Institute ini dihitung berdasarkan basis nilai dolar 2011.
Dalam sepuluh tahun belakangan, belanja militer Asia naik 62%. Cina, yang tertutup bagi perusahaan senjata AS akibat embargo, membukukan belanja $208 miliar. Negara-negara sekitarnya pun bereaksi.
Sepuluh negara Asean diperkirakan membelanjakan total $40 miliar tahun ini, setara dengan India. Angkanya naik dari $33 miliar pada 2010, menurut firma data pertahanan IHS Jane’s. Belanja Asean pada 2020 bisa mencapai $52 miliar.
Namun, korporasi persenjataan AS gagal memanfaatkan pertumbuhan itu. Sistem persenjataan yang ditawarkan AS umumnya terlalu mahal, karena mengusung kemampuan canggih yang sebetulnya kurang dibutuhkan di kawasan ini. Ada pula persaingan dari perusahaan Eropa dan lokal, yang lebih mampu memenuhi permintaan.
Beberapa pemain lokal ini juga pengekspor besar, seperti Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co asal Korea Selatan. Tetapi banyak juga yang relatif kecil jika dibandingkan raksasa AS seperti Boeing. PT Dirgantara Indonesia, misalnya, berhasil menjual empat unit pesawat patroli maritim kepada Korea Selatan senilai $92 juta. Pesawat ini diklaim sebagai yang termurah di pasaran, dan telah terjual ke delapan negara. Singapore Technologies Engineering Ltd telah menjual satu unit kapal amfibi ke Thailand seharga $135 juta.
Sebagai perbandingan, satu unit pesawat mata-mata Boeing P-8A dibanderol $220 juta.
- Associated Press
- Pesawat tempur F-35: Terlalu canggih, terlalu mahal?
Saat ini di Asean, hanya Singapura yang memiliki pesawat tempur baru buatan AS, sementara tidak ada yang menjadi pembeli kapal perang Negeri Paman Sam. Langganan lama AS, termasuk Indonesia, Thailand, dan Filipina, melirik pemasok lain.
Menurut beberapa kontraktor militer AS di Asia, pabrikan senjata Amerika terlalu fokus mengembangkan proyek mewah nan canggih untuk konsumen utamanya: Pentagon. Produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan Asia, kata para kontraktor.
Misalnya, andalan utama industri penerbangan AS adalah F-35 dari Lockheed Martin Corp. Pesawat ini bisa menembus pertahanan musuh, sekaligus beroperasi secara siluman alias lolos dari deteksi lawan. Namun ini terlalu canggih bagi negara Asia, yang umumnya hanya membutuhkan pesawat tempur sebagai penangkal ancaman dari luar. Dengan harga $125 juta per unit, pesawat ini juga terlalu mahal.
Industri kapal selam AS juga gagal memenuhi permintaan Asia. Produk jualan mereka adalah kapal selam tenaga nuklir dengan daya jelajah global. Namun, negara Asia lebih memilih kapal selam bermesin diesel yang pas untuk kebutuhan regional. Indonesia, India, Malaysia, Singapura, dan Vietnam pun memilih kapal selam buatan Eropa, Korea Selatan, dan Rusia.
http://m.indo.wsj.com/articles/BL-230B-14919
Tidak ada komentar:
Posting Komentar